Sisi Yang Tidak Terlihat Dari Perpustakaan dan Pustakawan

images h

Ilmu perpustakaan ? Apakah ilmu perpustakaan itu ? Untuk apakah ilmu perpustakaan tersebut ? Bukankah pustakawan hanya bertugas sebagai pembuka tutup pintu perpustakaan saja, orang yang menjaga buku, tempat menampung orang-orang buangan dan lain sebagainya Jadi kenapa harus diadakan ilmu semacam itu ? Apakah ilmu seperti itu penting buat kehidupan ? Apakah sarjana-sarjana dari ilmu seperti itu bisa menjadi orang yang sukses dan menjadi figur yang dibutuhkan.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu lah yang sering muncul dikalangan masyarakat awam. Masyarakat yang tak mengerti akan pentingnya sebuah ilmu. Padahal jika dikaji lebih mendalam lagi dan seorang mengerti akan pentingnya sebuah ilmu, mereka semua barulah akan mengerti bahwa ilmu adalah hal yang paling kuat untuk mengalahkan segalanya. Namun dari manakah ilmu itu diciptakan ? dan dimana pula ilmu itu dijadikan sebagai sumber-sumber ilmu ? Baiklah itu hanya sedikit sudut pandang dari ilmu. Namun disini yang paling penting adalah menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang sangat membutakan para kaum awam.
Sebenarnya jika masyarakat menghargai keberadaan perpustakaan dan tidak pernah memandang sebelah mata tentang Perpustakaan mereka barulah akan mengerti dan menghargai bahwa sebenarnya perpustakaan sangatlah dibutuhkan sekali. Kenapa saya begitu yakin akan pernyataan saya diatas ? Karena perpustakaan merupakan sumber dari berbagai ilmu, sumber dari berbagai kajian dan penelitian. Ibarat tubuh yang memiliki jantung maka begitulah analogi perpustakaan.
Tempat yang menampung ribuan buku dengan orientasi memajukan kecerdasaan masyarakat. Dan siapa orang-orang yang mengelolah buku-buku atau bahan-bahan tersebut untuk bisa dilestarikan dan dimanfaatkan serta diperbaharui agar bisa dipergunakan dengan layak. Dia adalah “Pustakawan”. Timbul lagi pertanyaan, pernyataan, dan penilian dari masyarakat awam mengenai Pustakawan. Jadi pekerjaan pustakawan hanya mengelolah atau menjaga perpustakaan, hanya sekedar duduk dan menunggu orang yang datang ? Sampai detik ini sebutan pustakawan masih belum banyak ‘dikenal’ dibandingkan dengan profesi lainnya.
Masyarakat lebih ‘mengenal’ pustakawan dengan sebutan “staf” di perpustakaan, “pegawai” di perpustakaan atau bahkan ‘penjaga buku di perpustakaan’. Anggapan itu seolah-olah membenarkan bahwa pustakawan bukanlah profesi, pustakawan bukanlah sebuah pekerjaan yang memerlukan keahlian tertentu, pustakawan hanyalah tenaga teknis yang sama dengan tenaga teknis lainnya atau tenaga administrasi lainnya. Singkatnya pustakawan bukanlah pekerjaan yang “bergengsi” dan “dikenal” oleh masyarakat secara luas. Begitulah pertanyaaan, pernyataan, dan penilaian yang sangat buruk sekali dari masyarakat yang berpikiran sempit.
Jika hanya sekedar menjaga buku kenapa harus jadi sarjana ? Disinilah yang saya anggap kebutaan masyarakat awam, masyarakat yang tidak mengerti betapa pentingnya ilmu perpustakaan dan figur dari Pustakawan. Perpustakaan adalah organisasi yang mengumpulkan bahan informasi baik yang tercetak maupun yang terekam. Disinilah tugas yang nyata bagi seorang pustakawan yaitu mengelolah, mengorganisasikan, dan memperbaharui informasi.
Jika seorang pustakawan tidak mempunyai ilmu,bagaimana ia bisa mengelolah bahan pustaka jangankan mengelolah, menata dan mengklasifikasikan buku sesuai dengan tempat nya pun tidak mungkin akan bisa dilakukan. Ilmu perpustakaan tidak hanya mengajarkan yang berkaitan dengan perpustakaan saja, bahkan dari semua segi bentuk ilmu pun dirangkum didalam ilmu perpustakaan ini. Semakin majunya zaman, semakin canggihnya teknologi, maka semakin pesat juga semua hal yang dicampur adukan dengan teknologi dan perpustakaan merupakan adalah salah satunya.
Dewasa ini perpustakaan tidak hanya harus berkunjung ketempatnya langsung, tapi bisa juga di akses lewat komputer ( Digital library ), dimana kemudahan dan keleluasaan anda untuk membaca semakin baik dan siapa orang yang bekerja dibalik layar tersebut ? Yang menyediakan dan mengelolah yang dipersiapkan untuk masyarakat pengguna lewat komputer ? Pustakawan lah jawabannya. Jadi pustakawan bukanlah suatu profesi yang memiliki eksistensi dan image yang rendah namun ternyata lulusan ilmu perpustakaan tidak hanya harus bekerja di perpustakaan saja, melainkan di bank atau juga di kantor-kantor besar dan yang terkenal sekalipun lulusan ilmu perpustakaan tetap di pakai.
Kenapa demikian ? karena Undang-undang No.43 tahun 2007 tentang perpustakaan bab 1 pasal 1 dinyatakan bahwa setiap institusi pemerintahan diharuskan memiliki perpustakaan khusus. Dalam artinya bahwa perpustakaan memiliki sumber dan tempat penyimpanan data tersendiri dan itu siapa yang mengelolanya ? dan siapa yang menjadi master dibidang arsip dan dokumentasi.
Mereka adalah sarjana-sarjana dari lulusan ilmu perpustakaan. Kembali lagi kepada Pertanyaan, Pernyataan dan Penilaian yang membuat masyarakat berpikiran sempit terhadap pustakawan tersebut tentulah bukannya tanpa sebab. Masyarakat tidak dapat disalahkan begitu saja, ketika mereka beranggapan bahwa pustakawan hanyalah ‘sekedar’ tenaga teknis biasa, tenaga administrasi, atau penjaga buku. Hal ini dikarenakan seringkali para pustakawan sendirilah yang ‘menguatkan’ anggapan-anggapan tersebut di tengah masyarakat.
Secara sadar atau tidak, pustakawan sering kali berperilaku seadanya dan menempatkan diri sebagai ‘penjaga buku’, tidak lebih dari itu. Pustakawan lebih banyak diam dan bekerja tanpa ada inisiatif untuk memberikan layanan secara lebih. Pustakawan terjebak dalam rutinitas kegiatan peminjaman (sirkulasi) dan pengolahan semata, sehingga hanya menunggu pengguna meminjam dan mengembalikan koleksi.
Dan ini berlangsung lama, sehingga masyarakat melihat bahwa ‘hanya’ itulah pekerjaan pustakawan, sehingga siapapun dan berlatar belakang apapun dapat bekerja di perpustakaan atau menjadi pustakawan. Akhirnya seperti fenomena yang terjadi dari tahun ke tahun dan bahkan sampai saat ini terjadi, perpustakaan sering kali menjadi ‘tempat buangan’, ‘tempat persinggahan’, ‘tempat hukuman’ bagi pegawai atau staf yang mempunyai masalah. Hal ini semakin memporak-porandakan keberadaan pustakawan profesional, dan memperkuat pandangan masyarakat akan pustakawan sebagai profesi yang kurang diperhitungkan. Kepmen PAN (Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara ) No. 33 tahun 1998, kemudian disusul Kepmen PAN No. 132 tahun 2002 tentang jabatan fungsional pustakawan, dan terakhir adanya Undang-undang No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan menjadi sebuah angin segar bagi pengakuan akan eksistensi pustakawan professional di tengah masyarakat Indonesia.
Dalam Kepmen PAN dan UU Perpustakaan tersebut terlihat jelas bagaimana seharusnya pustakawan bekerja dan bagaimana pustakawan adalah sebuah profesi yang membutuhkan kompetensi di bidang ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi. Dan yang terpenting juga bahwa pustakawan bukanlah sekedar ‘penjaga buku’. Seharusnya dengan adanya Kepmen PAN dan UU Perpustakaan, tidak akan terjadi lagi bahwa perpustakaan sebagai tempat buangan, dan siapapun dapat menjadi pustakawan. Pustakawan adalah profesi yang membutuhkan keahlian dan pendidikan di bidang ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi.
Artinya seorang pustakawan adalah orang yang memiliki pendidikan dan jalur yang jelas dalam karir dan profesinya. Disisi lain, tentunya Kepmen PAN dan UU Perpustakaan ini juga ‘menuntut’ pustakawan untuk segera berbenah, memperbaiki kinerja dan pola kerja, serta mampu menunjukkan kompetensinya di bidang perpustakaan.
Pustakawan harus mampu menunjukkan bahwa profesi pustakawan adalah profesi yang dapat ‘disejajarkan’ dengan profesi yang sebelumnya lebih dikenal oleh masyarakat seperti dokter, pengacara, bidan, dan lain-lain. Saat ini pemerintah telah memberikan berbagai bentuk perhatian dan penghargaan kepada perpustakaan dan pustakawan yang mampu menunjukkan keunggulan dan keprofesionalannya.
Berbagai ajang lomba dan kompetisi diadakan untuk memberikan apresiasi kepada pustakawan dan perpustakaan, sekaligus ‘menguji’ sejauh mana kompetensi pustakawan dalam berkontribusi terhadap pekerjaan dan masyarakat. Hal semacam ini sudah semestinya tidak disia-siakan oleh para pustakawan untuk menjadi pustakawan yang unggul, yang mampu menunjukkan perannya di masyarakat, dan yang mampu memberikan citra positif akan profesi pustakawan.
Untuk menjadi pustakawan unggul, setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni ; Pertama pustakawan harus selalu meningkatkan kemampuan baik dalam bidang teknologi maupun pengetahuan di bidang kepustakawanan; Kedua pustakawan harus mampu menghasilkan dan menampilkan hasil karyanya, terutama yang mendukung pelayanan kepada masyarakat; Ketiga pustakawan harus mampu berperan tidak hanya di lingkungan pekerjaannya tapi juga di lingkungan masyarakat, misal dengan menggiatkan kegiatan-kegiatan gemar membaca di daerahnya; Keempat pustakawan harus selalu mempunyai ide-ide kreatif, inovatif dan inisiatif dalam menjalankan profesinya; Kelima pustakawan harus mencintai pekerjaannya, berkepribadian dan menghormati kode etik pustakawan. Kelima hal di atas merupakan pondasi bagi pustakawan untuk menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa pustakawan adalah sebuah profesi yang membutuhkan kompetensi, profesi yang mempunyai peran penting dalam kehidupan masyarakat, dan profesi yang patut dibanggakan.
Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik, pustakawan unggul adalah pustakawan yang mampu merubah dirinya menjadi lebih baik dan selalu mencoba melakukan yang terbaik untuk pekerjaannya. Jadi berbuatlah yang terbaik, dan tunggu apa yang akan terjadi pada hidup anda.
Dan Hal-hal yang harus dilakukan untuk mengoptimalkan peran perpustakaan umum agar dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai media yang dapat memberikan pencerahan mencakup upaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap keberadaan perpustakaan, memperluas penyebaran perpustakaan, menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat, dan membuka kemungkinan hubungan kerjasama dengan berbagai pihak. Oleh karena itu, titik berat pencapaian bentuk ideal sebuah perpustakaan hendaknya mengarah pada kesepakatan berbagai pihak untuk menjadikan perpustakaan sebagai institusi sosial yang bersifat dinamis.
Sebenarnya masih banyak cara yang bisa dilakukan pemerintah pada umumnya, serta pihak perpustakaan pada khususnya untuk kembali mensosialisasikan fungsi perpustakaan. Namun yang paling penting adalah membuat perpustakaan itu menjadi layak dikunjungi, dan membuat sikap butuh akan perpustakaan pada masyarakat. Dengan memulai merekonstruksi perpustakaan menjadi lebih menarik. Hanya dengan menambah warna-warana cerah pada cat dindingnya, membuat kegiatan-kegitan menarik secara berkala, hingga kenyamanan yang diberikan oleh pihak perpustakaan itu sendiri.
Dengan demikian image perpustakaan dengan keheningan, kekakuan, keseriusan akan berubah menjadi menyenangkan, ceria, dan menjelma tempat paling dibutuhkan saat ini. Lebih luas lagi, selain memperbaiki tampilan dan lainnya, perpustakaan harus tetap berpedoman pada tujuan awal perpustakaan sebagai jembatan ilmu bagi masyarakat.
Berbagai upaya yang dijabarkan merupakan upaya membungkus perpustakaan menjadi lebih menarik dan mengakomodir perkembangan zaman. Perpustakaan pun harus bisa merangkul banyak pihak, mulai dari anak muda hingga pembaca mania yang suasana perpustakaan versi lama. Pihak pemerintah pun kini harus lebih menyiapkan anggaran serta dukungan penuh kepada perpustakaan. Karena perpustakaan tidak akan menjelma menjadi perpustakaan modern tanpa dukungan penuh dari pemerintah dan pihak-pihak lain yang terkait seperti penerbitan buku, LSM, serta pihak swasta.
Dengan usaha yang maksimal dan keinginan untuk membentuk masyarakat yang cinta akan perpustakaan, dan menghargai keberadaan pustakawan. Maka bersiaplah untuk melihat wajah baru perpustakaan kita, bersiap menjadi masyarakat yang butuh perpustakaan , masyarakat yang menghargai eksistensi dari seorang pustakawan maupun profesi pustakawan dan Mampu menjadi figur Pustakawan Idaman bagi Masyarakat.

Tentang firdaus

saya adalah seorng yang dilahirkan di Gampong sepeu, anak ke tiga dari lima bersaudara.
Pos ini dipublikasikan di Perpustakaan, Pustakawan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s