Kebebasan Intelektual

Kebebasan Intelektual

a. Problema Intelektual

Ketika berbicara tentang apa problema intelektual yang dihadapi kaum cendekiawan saat ini, maka setidaknya dapat ditemukan dua masalah mendasar, baik disadari atau tidak. Pertama, adalah problema keterasingan (kegelisahan) intelektual yang bersumber dari problema epistemologi, dari setiap kerangka pemikiran yang dipakai sebagai pendekatan untuk memahami berbagai fenomena eksistensial, baik manusia (jati diri), dan masyarakatnya (kultur), maupun alam semesta (natur). Kedua, problema moral-sosial, masalah yang menyangkut dimensi moralitas, dan etik cendekiawan itu sendiri, bagaimana mengaktualisasi tanggung jawab, komitmen dan pemahaman moralitas-etik dirinya dalam konteks kehidupan riil masyarakatnya, baik dalam konteks politik, ekonomi maupun kebudayaan.

b. Relevansi Kebebasan

Menghadapi kedua problema intelektual cendekiawan yang diuraikan di atas, diperlukan jawaban yang satu sama lain konteksnya berbeda. Jawaban atas problema epistemologi adalah bagaimana cendekiawan mampu menciptakan kebebasan dalam dirinya, melalui kreativitas berpikir dan pemikiran-pemikiran produktif sehingga ia dapat terbebaskan dari belenggu sejarah pemikiran. Kegenitan dan kegelisahan intelektual lebih baik disalurkan pada pemikiran alternatif, betapapun tidak ada gunanya secara politis.

Sedangkan jawaban atas problema moral-sosial cendekiawan adalah bagaimana mereka mampu membebaskan diri dari pengaruh tangan-tangan kekuasaan-birokratik-teknokratik. Jawaban ini berarti dengan tetap memelihara komitmen untuk tetap berada diluar struktur lembaga kekuasaan. Problema moral-sosial menuntut adanya cendekiawan bebas sebagai kelompok sosial independen yang memiliki kritisme sosial. Eksistensi kelompok cendekiawan yang bebas lepas dari praktik politik-birokratik-teknokratik ini sangat penting sebagai perimbang kekuatan cendekiawan milik negara. Tetapi pembebasan diri secara intelektual dan politis terhadap institusi kekuasaan saja, tidaklah cukup. Pembebasan secara institusional-politis perlu dibarengi dengan pembebasan sikap kultural tertentu, dalam konteks ini Anharudin (seorang cendekiawan muda Indonesia) menawarkan konsep hipotetik bagaimana problema epistemologi itu dapat dipecahkan, yaitu konsep pembebaskan cendekiawan dari belenggu sejarah pemikiran, baik berupa ilmu-ilmu pengetahuan empiris maupun ideologi yang akan menjadi salah satu alternatif bagaimana proses pembebasan itu dilakukan dan berarti peluang bagi setiap cendekiawan untuk menciptakan ilmu sendiri, yang paling cocok bagi dirinya maupun masyarakatnya.

Kebebasan dimaksudkan disini adalah suatu konsep yang mengacu pada kondisi subjektif, yaitu kebebasan berpikir pada tingkat subjektif-individual, sebagai pembiasan dari penguasaan keilmuan, kearifan, kesadaran eksistensial dan pemahaman filosofis tentang jati dirinya, dan tentang berbagai persoalan kehidupan. Dengan kata lain, kebebasan cendekiawan adalah “suatu ruang kosmik dalam dirinya dimana ia dapat bebas untuk berpikir dan berpikir bebas”. Itu berarti bahwa dalam dunia ini cendekiawan dapat, boleh, dan bisa untuk tidak lagi terjerat oleh perangkap-perangkap kelembagaan dan normatif masyarakat. Ia boleh dan bebas dari norma-norma, baik norma sosial, agama,maupun budaya. Dalam dunia ini cendekiawan dapat berenang bebas, mengembangkan pemikiran baru, menciptakan kebenaran dan nilai-nilai baru, mempertanyakan kembali makna kebenaran yang telah mapan dan dianut oleh orang-orang kebanyakan.

Jadi, pada tingkat awal misi cendekiawan adalah membebaskan dirinya dari fragmentasi dunia dan ketidakmasuk akalan eksistensi dirinya. Kemudian setelah itu, misi cendekiawan adalah membebaskan orang lain secara berlahan dari kemelut dan belenggu dunia keterbatasan, menuju dunia kebebasan yang sama.

Tentang firdaus

saya adalah seorng yang dilahirkan di Gampong sepeu, anak ke tiga dari lima bersaudara.
Kutipan | Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s