Perpustakaan dan Sistem Imbalan

images

Perpustakaan dan Sistem Imbalan

Selain memberikan solialisasi di tengah-tengah masyarakat akan pentingnya perpustakaan juga dapat melakukan beberapa terobosan salah satunya lewat sistem imbalan. Imbalan dimaksud tidak berarti harus berupa hadiah langsung. Tetapi, imbalan tersebut bisa dalam berbagai macam bentuk. Yang penting adalah, kita bisa membuat pengunjung perpustakaan merasa mendapatkan sesuatu yang ‘lebih’, suatu hadiah yang tidak dia dapat jika berkunjung ke tempat lain. Tentunya, imbalan ini juga mesti disesuaikan dengan karakteristik pengunjung: anak-anak akan tertarik pada imbalan yang berbeda dengan orang dewasa.

Sebagai contoh konkretnya, untuk anak-anak, imbalan yang bisa diberikan dibuat hari-hari khusus dimana petugas perpustakaan akan membacakan buku bagi anak-anak, dan dalam acara tersebut akan diadakan kuis dan pembagian hadiah. Memang nantinya niat anak-anak itu tidak murni untuk membaca, tapi yang penting niat untuk datang ke perpustakaan terbangun dulu. Imbalan lainnya bisa berupa pemberian hadiah bagi pengunjung anak-anak yang telah meminjam sampai sepuluh kali. Inilah yang membuat perpustakaan menjadi berbeda dengan televisi, yang tidak akan memberikan hadiah apapun meskipun mereka menontonnya berkali-kali.

Peranan Perpustakaan

Setiap perpustakaan dapat mempertahankan eksistensinya apabila dapat menjalankan peranannya. Secara umum peran – peran yang dapat dilakukan adalah :

Menjadi media antara pemakai dengan koleksi sebagai sumber informasi pengetahuan.

Menjadi lembaga pengembangan minat dan budaya membaca serta pembangkit kesadaran pentingnya belajar sepanjang hayat.

Mengembangkan komunikasi antara pemakai dan atau dengan penyelenggara sehingga tercipta kolaborasi, sharing pengetahuan maupun komunikasi ilmiah lainnya.

Motivator, mediator dan fasilitator bagi pemakai dalam usaha mencari, memanfaatkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Berperan sebagai agen perubah, pembangunan dan kebudayaan manusia.

Mudah-mudahan kejayaan yang pernah terjadi di masa Kekhalifahan Abbasiyah yang mendirikan Baitul Hikmah dapat kembali terealisasi jika masyarakat Indonesia umumnya dan Aceh khususnya menjadikan perpustakaan bagian dalam suatu tatanan perubahan.

Tentang firdaus

saya adalah seorng yang dilahirkan di Gampong sepeu, anak ke tiga dari lima bersaudara.
Pos ini dipublikasikan di Perpustakaan dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s