Perpustakaan Mesjid

PERPUSTAKAAN MESJID
Perpustakaan merupakan pusat atau sumber informasi yang terdiri atas berbagai macam koleksi, baik yang tercetak maupun noncetak. Perpustakaan bukan merupakan hal yang baru lagi di kalangan masyarakat sekarang. Bahkan untuk menyebarluaskan informasi, pemerintah daerah maupun pemerintah pusat telah menyediakan dan berupaya mengembangkan perpustakaan.
Perpustakaan mesjid juga hampir disemua penjuru kota ataupun desa. Kesekua prasarana tersebut di peruntukkan untuk menyebarluaskan informs kepada masyarakat.agar sebuah perpustakaan lebih sering di kunjungi dan dimanfaatkan oleh masyarakan, sudah pasti ditentukan oleh pelayanan yang diberikan. Di samping itu, program kegiatan yang beraneka ragam yang ditawarkan oleh sebuah perpustakaan, tentu akan menarik pertrhatian pemakai perpustakaan.
Perpustakaan mesjid dapat mengembangkan kebiasaan membaca terutama bagi jamaahnya dan masyarakat pada umumnya. Perpustakaan mesjid berdiri karena adanya kebutuhan akan suatu unit yang berfungsi untuk mengumpulkan, mengorganisasikan, dan menyebarluaskan berbagai karya penulis kepada pembaca. Perpustakaan mesjid merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan ummat islam dan merupakan bagian dari proses pendidikan dan peningkatan iman. Berbagai bahan pustakan sangat diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan jamaah mesjid.
Melalui perpustakaan mesjid, jamaah akan lebih mudah mempelajari pengetahuan ke-islaman, dapat mengkaji lebih dalam dalil-dalil (Al-quran dan As-sunnah) yang didengarnya dalam ceramah-ceramah, mempelajari ilmu-ilmu lainnya, dan memperoleh informasi tentang dunia islam saat ini. Perpustakaan mesjid tidak hanya menyediakan bahan pustaka ibadah dan fikih tetapi juga masalah umum, pertanian, teknologi, perniagaan, dan lain-lain yang diperlukan oleh jamaah dalam kehidupan sehari-hari.

PERAN PERPUSTAKAAN
Perpustakaan merupakan infrastruktur penting dan institusi sosial yang harus memikul tanggung jawab untuk mempromosikan aktifitas membaca. Oleh karena itu, perpustakaan dipandang sebagai suatu fasilitas penting dimana anggota masyarakat dapat memperoleh berbagai bahan bacaan ketika mereka membutuhkannya. Melalui perpustakaan anggota masyarakat dapat memperoleh bantuan yang berkaitan dengan buku dan bentuk informasi laiinya, kita juga mungkin sepakat bahwa para guru dan orangtua merupakan urutan pertama penyebab tidak termotivasinya anak-anak untuk membaca; dan fasilitas perpustakaan yang tidak memadai dan pengelola perpustakaan yang tidak terampil untuk mempromosikan aktifitas membaca sebagai suatu kesenanagan, sebagai faktor penyebab berikutnya.
Berbagai tugas yang tidak dilakukan oleh para pengelola perpustakaan adalah mengorganisasikan berbagai aktifitas yang dapat mendorong timbulnya minat baca dan menjaga kelangsungan minat baca dari pelanggannya. Aktifitas yang sehaursnya diorganisasikan diantaranya adalah diskusi; kompetisi bercerita, dan sebagainya.perpustakaan juga dapat menorganisasikan kelompok membaca orangtua-anak untuk mendorong orangtua terlibat langsung dalam aktifitas membaca.
Kebiasaan membaca tidak hanya ditentukan oleh keinginan dan sikap masyarakat, tetapi juga ditentukan oleh ketersediaan dan kemudahan untuk memperoleh berbagai bahan bacaan. Ketersediaan artinya tersedianay bahan pustaka yang memenuhi kebutuhan masyarakat. Sedangkan kemudahan untuk memperoleh adalah tersedianya sarana dan prasarana dimana masyarakat bias dengan mudah memperoleh berbagai bahan pustaka. Ketersediaan dan kemudahan tersebut berkaitan erat dengan pelayanan perpustakaan.

Kesimpulan
Perpustakaan adalah tempat dimana masyarakat dating untuk membaca. Perpustakaan berperan sebagai perantara dalam proses transfirmasi berbagai pengetahuan dan sumber informasi. Perpustakaan yang menarik dan sensitive terhadap kebutuhan penggunanya akan mampu mempromosikan dirinya sendiri. Promosi membaca perlu dilakukan untuk menarik minat pengguna potensial dan mempertahankan minat pengguna konvensional.
PERAN PERPUSTAKAAN MESJID DALAM PEMBUDAYAAN MEMBACA
Minat dan kebiasaan membaca merupakan keterampilan yang diperoleh setelah seseorang dilahirkan, bukan keterampilan bawaan. Oleh karena itu minat dan kebiasaan tersebut dapat dipupuk, dibina, dan dikembangkan secara berkelanjutan sehingga menjadi suatu budaya.
Di tanah air, berdirinya banyak perpustakaan mesjid patut disambut dengan gembira, karena kehadirannya diharapkan dapat turut membantu mendorong tumbuhnya kebiasaan membaca secara luas dikalangan umat islam, yang dinilai dewasa ini sangat rendah.
Sehubungan dengan itu, peranan perpustakaan mesjid dalam konteks pembudayaan membaca dikalangan umat islam agar mempunyai persepsi yang jelas dalam mengembangkan pelayanan perpustakaan mesjid.

MANFAAT MEMBACA
Tujuan atau alasan setiap orang untuk membaca kita dapat membedakan empat jenis membaca seperti dikemukakan oleh Landheer yang dikutip oleh Benge dalam Libraries And Cultural Change, sebagai berikut: (1) Achievement reading, yaitu membaca untuk memperoleh keterampilan atau kualifikasi tertentu. Melalui membaca, pembaca mengharapkan suatu hasil langsung yang bersifat praktis seperti untuk lulus dalam suatu ujian atau mempelajari suatu keahlian; (2) Devotional reading yaitu membaca sebagai suatu kegiatan yang berhubungan dengan ibadah seperti membaca kitab suci; (3) Cultural reading yaitu membaca sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan, dimana manfaat membaca tidak diperoleh secara langsung tetapi sangat penting dalam masyarakat; dan (4) Compensatory reading yaitu membaca untuk kepuasaan pribadi atau lebih dikenal dengan membaca yang bersifat rekreasi.
Di negara-negara berkembang seperti Indonesia, membaca pada umumnya adalah untuk memperoleh manfaat langsung. Untuk tujuan akademik, membaca adalah untuk memenuhi tuntutan kurikulum sekolah atau pendidikan. Di luar instansi formal, masyarakat membaca untuk tujuan praktis langsung yang biasanya berhubungan dengan perolehan keterampilan.

PEMBUDAYAAN MEMBACA
Pembudayaan merupakan suatu hal yang kompleks karena menyangkut banyak faktor yang mempengaruhi antara lain norma, nilai dan pola komunikasi yang berlaku didalam masyarakat. Nilai yang membentuk apa yang dianggap berharga dan baik, norma memberikan panduan apa yang harus dilakukan, dan pola komunikasi menyediakan sarana bagi penerapan dan penguatan suatu budaya. Ketiganya saling terkait mendasari timbulnya budaya, termasuk budaya membaca.
Secara umum, pembudayaan membaca ditentukan oleh dua faktor. Pertama, ditentukan oleh keinginan dan sikap masyarakat terhadap bahan bacaan. Jika keinginan dan sikap positif terhadap bahan bacaan terdapat dalam masyarakat, maka akan timbil minat baca. Dengan kata lain, minat baca bearti adanya perhatian atau kesukaan (kecenderungan hati) untuk membaca. Kedua, ditentukan oleh ketersediaan dan kemudahan akses terhadap bahan bacaan. Ini bearti, tersedia bahan bacaan yang diminati oleh masyarakat dan mudah untuk memperolehnya. Faktor kedua ini erat kaitannya dengan dunia peenerbitan dan pelayanan perpustakaan, yang akan dibicarakan dalam bagian berikutnya.
Oleh karena itu, untuk mengubah masyarakat hingga aktif dan apresiatif terhadap budaya baca dapat dilakukan melalui jalur pendidikan, baik pendidikan formal maupun pendidikan informal. Melalui pendidikan formal peranan para guru atau tenaga pengajar sangat penting , mulai dari tingkat taman kanak-kanak sampai dengan perguruan tinggi. Dan melalui pendidikan informal, peranan orang tua sangat menentukan untuk menumbuh-kembangkan minat baca pada anak-anaknya sejak dini, linkungan keluarga merupakan tempat yang pertama sekali memulai pembinaan minat baca karena linkungan inilah yang pertama sekali dikenal oleh anak.

PERAN PERPUSTAKAAN
Perpustakaan sebagai lembaga perantara (agency) yang sangat penting dalam proses komunikasi, dapat memainkan peranan yang sangat besar dalam upaya pengembangan budaya baca. Perpustakaan berdiri karena adanya kebutuhan akan suetu lembaga yang berfungsi untuk mengumpulkan dan mengorganisasikan karya penulis untuk disebarluaskan kepada pembaca.
Peran yang bisa dilakukan oleh perpustakaan mesjid untuk membudayakan membaca dikalangan umat islam, yaitu dengan mengorganisasikan, mengelola dan mengembangkan perpustakaan mesjid secara profesional. Perpustakaan yang baik dengan sendirinya akan menjadi media iklan yang besar unutk memikat hati masyarakat agar tertarik untuk membaca.
Mengelola perpustakaaan mesjid secara professional pada dasarnya sama halnya seperti mengelola usaha bisnis, dimana sasaran pokoknya adalah mengusahakan agar produknya diserap oleh pelanggan. Oleh karena itu pengelolanya harus didasarkan pada filosofi memenuhi kebutuhan pengguna perpustkaan (sebagai pelanggan) dengan sebaik-baiknya adalah yang utama. Kemudian hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah sikap mental pengelola dan staf perpustakaaan merupakan syarat untuk meningkatkan dan mengendalikan kualitas pelayanan perpustakaan.

KESIMPULAN
Kehadiran perpustakaan-perpustakaan mesjid untuk mendukung pembudayaan membaca di kalangan umat islam baru mempunyai nilai strategi apabila perpustakaan-perpustakaan tersebut diorganisasikan, dikelola dan dikembangkan secara professional sebagaimana layaknya menyelenggarakan suatu organisasi yang baik.
images (1)

Tentang firdaus

saya adalah seorng yang dilahirkan di Gampong sepeu, anak ke tiga dari lima bersaudara.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Perpustakaan Mesjid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s